Monuni adalah menempatkan seorang
bayi dalam buaian atau ayunan. Di Sulawesi Tengah khusunya suku Buol di Daerah
Tingkat II D Buol, monuni merupakan suatu bentuk rangkaian adat, yang di
laksanakan sfjak turun temurun hingga saat ini di pertahankan keasliannya oleh
msyarakat Buol.
Kegatan murni di lakukan pada anak
pertama suku Buol putra maupun putri, disaat sang bayi baru berusia Tujuh hari
dan paling lambat berusia dua minggu sehingga keluarga yang baru mendapatkan
anak, setelah kandungan sang ibu mulai tua, persiapan_persiapan monuni sudah
mulai di kumpulkan sedikit demi sediki., dan besr kecilnya kegiatan sudah di
rencanakan oleh kedua keluarga pihak ayah dan ibu.
Bagi masyarakat suku
Buol kegiatan monuni dibagi dalam tiga kategori masing_masing:
1.
Tunino Adat, monuni secara adat yang diutamakan
bagi yang ada kemampuan untuk melaksanakanya.
2.
Tunino Bubato, maksudnya monuni secara sederhana
dengan janji kedua keluarga apabilah suda siap (suda ada persiapan) mka akan dilaksanakan kembali
secara adat.
3.
Tunino pani, maksudnya monuni yang hanya di
laksanakan oleh dukun kampong secara sederhana.
ALAT HIBURAN
Malam hari sebelum atau sesuda kegiatan monuni
diadakan malam hiburan dengan menampilkan kesenian.
1. Balumba/jepeng, diiringi gambus.
2. Rabana.
3. Motoogo atau main kulintang.
Dalam acara ini, hiburan akan dipilih oleh tuan rumah
atau pelaksana tetapi biasanya ketiga macam hiburan ini hanya diatur main
secara bergantian/bergilir.
DONDEN/SESAJEN UNTUK MONUNI
1.
Bugoto
(beras tujuh macam)maksudanya beras warna warni.
2.
Kaingo (kain
tujuh macam)warna warni
3.
Bongo kotumulyo(kelapa yang bertunas) satu buah
4.
Natuno manuk(telur
Ayam) tujuh butir
5.
Bongo butakon(kelapa
di belah) satu buah
6.
Lilin,delapan
buah
7.
Togo Doka,
lampu diikat dengan tirasan kain tujuh macam
8.
Padi gaba,
tujuh maca
TATA CARA PELAKSANAAN
Orang tua bayi dengan memakai pakaian adat duduk
bersanding dekat donden dan peralatan monuni. Sesuda itu kegiatan dimulai dan
dipandu oleh pabisara.
1.
Menjemput Tuni
oleh seorang putrid yang memakai pakaian adat dari satu rumah yang telah
ditetapkan
2.
Menurunkan satu
tandan kelapa muda warna kuning yang bejumlahlima atau tujuh buah
3.
Moponaugo
tangobu, (pengambilan air)pada tuju buah rumah pejabat
4.
Air dari bambu
kecil di tuang kembali di dalam bamboo panjang lalu di teruskan kembali kedalam
tong sebagai tempat mandi sang bayi oleh dukun kampong atau seurang yang di
tunjuk.
5.
Setelah itu sang
bayi di mandikan oleh dukun kampung dengan air dalam goong
6.
Sesuda itu sang
bayi disiram dengan air kelapa yang dibelah diatas kepalanya.
7.
Sesuda itu sang
bayi dikenakan pakaian atau ni bodong dalam bahasa daerah yang disebut taapon.
8.
Selanjutnya dukun
kampong berdiri sambil mengunakan kain sarung dipinggang lalu melangkahi sang
bayi tiga kali secara berturut-turut sambil menggulung kain di pinggangnya.
9.
Sesuda itu sang
bayi dibedaki.
10. Sesuda itu buaian digantung.
11. Kemudian donden(sesajen) yang telah dibuat mendahului
segala kegiatan .
12. Kemudian sang ibu bayi mendekati ayuan langsung
menggoyang ayunan.
13. Acara penutupan pembaca doa selamat dan dilanjutkan
dengan malam kesenian.
Kegitan
adat lainya dalam perkembangan anak adalah :
MOISILAM (PENYUNATAN ANAK)
Donden (sesajen) terdiri dari:
·
Bukau bitu
semacam baskom dari tembaga diisi dengan : pisang sepatu satu sisir, kelapa
bertunas satu, minyak kelapa satu botol, gulah merah dan benag warna warni
tujuh macam.
·
Dulyang diisi
dengan: tujuh cangkir beras, telur dan lilin, satu cangkir minak bajo.
·
Untuk monunat di taruh dipiring: kasa steril, kapas dan pisau.