Jumat, 13 September 2013

Adat Buol

Monuni adalah menempatkan seorang bayi dalam buaian atau ayunan. Di Sulawesi Tengah khusunya suku Buol di Daerah Tingkat II D Buol, monuni merupakan suatu bentuk rangkaian adat, yang di laksanakan sfjak turun temurun hingga saat ini di pertahankan keasliannya oleh msyarakat Buol.
Kegatan murni di lakukan pada anak pertama suku Buol putra maupun putri, disaat sang bayi baru berusia Tujuh hari dan paling lambat berusia dua minggu sehingga keluarga yang baru mendapatkan anak, setelah kandungan sang ibu mulai tua, persiapan_persiapan monuni sudah mulai di kumpulkan sedikit demi sediki., dan besr kecilnya kegiatan sudah di rencanakan oleh kedua keluarga pihak ayah dan ibu.
Bagi masyarakat suku Buol kegiatan monuni dibagi dalam tiga kategori masing_masing:
1.     Tunino Adat, monuni secara adat yang diutamakan bagi yang ada kemampuan untuk melaksanakanya.
2.     Tunino Bubato, maksudnya monuni secara sederhana dengan janji kedua keluarga apabilah suda siap (suda ada persiapan) mka akan dilaksanakan kembali secara adat.
3.     Tunino pani, maksudnya monuni yang hanya di laksanakan oleh dukun kampong secara sederhana.
ALAT  HIBURAN

Malam hari sebelum atau sesuda kegiatan monuni diadakan malam hiburan dengan menampilkan kesenian.
1.     Balumba/jepeng, diiringi gambus.
2.     Rabana.
3.     Motoogo atau main kulintang.

Dalam acara ini, hiburan akan dipilih oleh tuan rumah atau pelaksana tetapi biasanya ketiga macam hiburan ini hanya diatur main secara bergantian/bergilir.

DONDEN/SESAJEN UNTUK MONUNI

1.     Bugoto (beras tujuh macam)maksudanya beras warna warni.
2.     Kaingo (kain tujuh macam)warna warni
3.     Bongo kotumulyo(kelapa yang bertunas) satu buah
4.     Natuno manuk(telur Ayam) tujuh butir
5.     Bongo butakon(kelapa di belah) satu buah
6.     Lilin,delapan buah
7.     Togo Doka, lampu diikat dengan tirasan kain tujuh macam
8.     Padi gaba, tujuh maca

TATA CARA PELAKSANAAN

Orang tua bayi dengan memakai pakaian adat duduk bersanding dekat donden dan peralatan monuni. Sesuda itu kegiatan dimulai dan dipandu oleh pabisara.

1.     Menjemput Tuni oleh seorang putrid yang memakai pakaian adat dari satu rumah yang telah ditetapkan
2.     Menurunkan satu tandan kelapa muda warna kuning yang bejumlahlima atau tujuh buah
3.     Moponaugo tangobu, (pengambilan air)pada tuju buah rumah pejabat
4.     Air dari bambu kecil di tuang kembali di dalam bamboo panjang lalu di teruskan kembali kedalam tong sebagai tempat mandi sang bayi oleh dukun kampong atau seurang yang di tunjuk.
5.     Setelah itu sang bayi di mandikan oleh dukun kampung dengan air dalam goong
6.     Sesuda itu sang bayi disiram dengan air kelapa yang dibelah diatas kepalanya.
7.     Sesuda itu sang bayi dikenakan pakaian atau ni bodong dalam bahasa daerah yang disebut taapon.
8.     Selanjutnya dukun kampong berdiri sambil mengunakan kain sarung dipinggang lalu melangkahi sang bayi tiga kali secara berturut-turut sambil menggulung kain di pinggangnya.
9.     Sesuda itu sang bayi dibedaki.
10.  Sesuda itu buaian digantung.
11.  Kemudian donden(sesajen) yang telah dibuat mendahului segala kegiatan .
12.  Kemudian sang ibu bayi mendekati ayuan langsung menggoyang ayunan.
13.  Acara penutupan pembaca doa selamat dan dilanjutkan dengan malam kesenian.

Kegitan adat lainya dalam perkembangan anak adalah :

MOISILAM (PENYUNATAN ANAK)

Donden (sesajen) terdiri dari:
·       Bukau bitu semacam baskom dari tembaga diisi dengan : pisang sepatu satu sisir, kelapa bertunas satu, minyak kelapa satu botol, gulah merah dan benag warna warni tujuh macam.
·       Dulyang diisi dengan: tujuh cangkir beras, telur dan lilin, satu cangkir minak bajo.
·       Untuk monunat di taruh dipiring: kasa steril, kapas dan pisau.